Sabtu, 18 Juni 2011

Monggo sareng-sareng sinau boso jowoBahasa Jawa SINAU BOSO JOWO Bahasa jawa mempunyai beberapa macam tingkatan untuk membedakan kepada siapakah lawan

Bahasa Jawa

SINAU BOSO JOWO
Bahasa jawa mempunyai beberapa macam tingkatan untuk membedakan kepada siapakah lawan kita berbicara, apabila kita bicara dengan anak muda atau yang kita anggap kawan bisa menggunakan ngoko lalu ketika dengan orang yang lebih tua memakai bahasa jowo als ata orang jawa menyebutna boso kromo dan ketika lawan bicara kita orang yg sepuh kita memakai kromo inggil
Pastilah kita orang jawa pernah di ajarkan oleh orang tua kita tentang tata cara berbicara kepada orang kita hormati karena kita punya budi pekerti, memang sih agak sedikit ribet tapi inilah budaya kita yang kita harus lestarikan kalau bukan kita siapa lagi yang peduli.
Di bawah ini adalah sedikit conttoh boso kromo silakan di lihat dan semoga bermanfaat.
Ngoko

Tembung Ngoko-Kromo-Kromo Inggil
Tembung Kromo Inggil
Ngoko

Kromo

Kromo Inggil
Abang Abrit Abrit
Anak yoga Putra
adus adus siram
aran nama asma
banyu toya toya
bojo semah garwa
buwang bucal kéndhang
buyar rampung rampung
carita cariyos cariyos
cukur cukur paras, pangkas
dadi dados dados
dalan radinan margi
dandan dandos busana
deleng ningali mriksani
dhewé piyambak piyambak
doyan purun kersa
duwé gadhah kagungan
embuh kirangan ngapunten
endi pundi pundi
epék pendhet pundhut
gawa bekta asta
gedhé ageng ageng
gelem purun kersa
gelis énggal énggal
iki niki punika
ilang ical ical
imbuh imbet tanduk
inep nyipeng nyaré
isin isin lingsem
iya inggih sendika
jaga jagi reksa
jaluk nedi suwun
jamu jampi loloh
jarit sinjang nyamping
jeruk jeruk jeruk
jungkat serat pethat
jupuk pendhet pundhut
kabéh sedaya sedanten
kacamata kacamripat kacatingal
kakang kakang raka
kanggo kanggé kagem
kandha sanjang ngendika
kklambi rasukan ageman
keris dhuwung wangkingan
kongkon kéngkén utus
kowé sampéyan panjenengan

AKSARA JAWA





mohon maaf sebelumnya bagi yang tidak mengetahui huruf Jawa tidak usah paranoid dulu ya karena inti tulisan ini bukan huruf Jawa itu sendiri, tetapi lebih ke masalah makna kehidupan. Anda tidak begitu membutuhkan kemampuan dan/atau pengetahuan tentang huruf Jawa kok, yang penting membacanya pelan dan jangan terpaku pada huruf Jawa-nya. Fokuslah pada penjelasannya.



(Informasi ini saya tambahkan untuk mengajak teman-teman yang tidak tahu huruf Jawa untuk tidak takut membaca )



Setelah mengetahui sedikit tentang sejarah huruf Jawa maka mari kita sedikit mengupas beberapa makna filosofis dari huruf Jawa tersebut. Ada begitu banyak makna secara filosofis dari huruf Jawa tersebut dan makna filososfis tsb bersifat cukup general alias tidak hanya untuk orang Jawa saja lho. Ada beberapa versi makna huruf Jawa tersebut, beberapa di antaranya adalah yang dikatakan Pakdhé Wikipedia di sini dan di sana, berhubung Pakdhé Wikipedia sudah bercerita dengan cukup jelas maka saya tidak akan menulis ulang pitutur Pakdhé tersebut.
Sekarang saya akan sedikit mengupas “tafsir” versi lain dari huruf Jawa tersebut. Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mencetuskan konsep petuah tentang kepemimpinan yang sangat terkenal, beliau juga berhasil memberi penafsiran mengenai ajaran budi pekerti serta filosofi kehidupan yang sangat tinggi dan luhur yang terkandung dalam huruf Jawa .
Adapun makna yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) HA NA CA RA KA:

Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.


(2) DA TA SA WA LA

DA TA SA WA LA (versi pertama):
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.

DA TA SA WA LA (versi kedua):
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk


(3) PA DHA JA YA NYA:

PA DHA JA YA NYA =Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf).


(4) MA GA BA THA NGA :

Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi



Tetapi selanjutnya dengan sedikit ngawur saya pribadi akan berusaha menyelami dan menjabarkan tafsir huruf Jawa versi Ki Hadjar tersebut sesuai dengan kemampuan saya. Kalau banyak kesalahan ya mohon dimaklumi karena saya bukanlah seorang filusuf, saya hanya ingin mengenal lebih jauh huruf Jawa (walaupun secara ngawur dengan cara sendiri).

(1) HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.

Dari arti secara harfiah tsb, saya berusaha menjabarkannya menjadi dua versi:

**) Ketelanjangan=kejujuran

Bukankah secara fisik manusia lahir dalam keadaan telanjang? Tapi sebenarnya ketelanjangan itu tidak hanya sekedar fisik saja. Bayi yang baru lahir juga memiliki jiwa yang “telanjang”, masih suci…polos lepas dari segala dosa. Seorang bayi juga “telanjang” karena dia masih jujur…lepas dari perbuatan bohong (kecuali bayi aneh :D ). Sedangkan CA-RA-KA mempunyai makna cipta-rasa-karya . Sehingga HA NA CA RA KA akan memiliki makna dalam mewujudkan dan mengembangkan cipta, rasa dan karya kita harus tetap menjunjung tinggi kejujuran. Marilah kita “telanjang” dalam bercipta, berrasa dan berkarya.

**)) Pengembangan potensi

Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia).
Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).

(2) DA TA SA WA LA: (versi pertama)

Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.

DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh.

DA TA SA WA LA: (versi kedua)

Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk

DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar.

(3) PA DHA JA YA NYA:
PA DHA JA YA NYA = sama kuat
Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing.

(4) MA GA BA THA NGA:
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi

Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
==========================================================

Thanks for http://teguhwaloeyo.blogspot.com/

02 Januari 2009

Bunda Satria Alumnies

Hallo temen-temen Bundas yg ada di jagat maya....

Gw dulu salah satu murid STM Bunda Satria alias STM BEKASI (Belakang Kantor Polisi).
Dulu masih jaman Pak Sasana Adi SE yang menjabat sebagai KEPSEK.
Gw dulu ambil jurusan Elektronika Komunikasi, EK 1 tepatnya, lulusan tahun 2000.

Gw disini sebenarnya pengen banget mencari temen-temen Bunda, terutama yang satu alumni dengan gw. Di jakarta, gw nemuin beberapa temen yang kebetulan dulu satu kelas Elektronika.Mereka yaitu :

  1. Suryanto Cikarang
  2. Daryanto Pulogadung
  3. Gatot Pluit (kerjanya)
  4. Yulianto Kemayoran
  5. Sandi Manggadua (info terakhir)
  6. Darto Pluit (info dr gatot)
  7. Munjirin Jembatan 5 (info internet)

Kuharap Bagi temen-temen yg baca blog ini , dan sekiranya pernah skull di Bundas, bisa berbagi info denganku, kalo ada atau ketemu temen Bunda lainnya.
Untuk informasi no telepon hub langsung bajiel@gmail.com

tanks

27 Desember 2008

Koleksi uang

Nih sejumlah uang yang bagiku sangat berhaga. Mungkin jika kamu melihat nominalnya takkan seberapa, tetapi jika dilihat dari sisi sejarah, niscaya kamu pasti pengin punya......
Bagi temen-temen yang juga sehobi dengan saya, tolong dong dipostingin koleksi kalian disini ..... Tanks.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar